Selasa, 08 Januari 2013

Ingin Langsing dalam 7 Hari? Ini Caranya!

BANYAK metode yang bisa digunakan untuk menurunkan berat badan. Namun, cara yang satu ini bisa sukses turunkan berat badan dalam tujuh hari. Penasaran?

Dengan fitnes di tempat kebugaran merupakan cara jitu menurunkan berat badan. Tetapi faktanya, tak sedikit orang yang kekurangan waktu untuk pergi ke tempat kebugaran.

Berikut ini beberapa langkah untuk menurunkan berat badan hanya dalam tujuh hari, sebagaimana dilansir Boldsky, Senin (31/12/2012).

Kurangi porsi makan
Jumlah makanan yang sama, tidak akan membuat berat badan menjadi turun. Untuk mengurangi deposit lemak di perut, Anda harus mengontrol pola makan dengan benar. Ini bukan berarti Anda harus berhenti makan, hanya mengontrol jumlah asupan makanan. Misalnya, Anda konsumsi satu piring nasi saat makan berat. Kurangilah dengan makan setengah piring saja.

Salad dan buah-buahan

Buah-buahan segar bisa jadi pengganti camilan yang sehat. Saat perut merasa lapar, cobalah konsumsi buah seperti mentimun, tomat, brokoli dengan cara memakannya secara mentah. Ini merupakan cara jitu pengganti camilan dibandingkan Anda mengonsumsi roti atau gorengan yang berminyak. Selain itu, jeruk dan jeruk nipis juga dianggap dapat membakar lemak-lemak yang menempel di tubuh Anda.

Campur air panas dengan lemon dan madu

Mengonsumsi air panas dengan lemon dan madu dinilai dapat menurunkan berat badan di tubuh. Pasalnya, lemon memiliki asam yang dapat memecah timbunan lemak. Di sisi lain, madu dapat membuang sisa-sisa pecahan lemak dari buah lemon. Dengan meminum tiga dan empat kali sehari dapat menurunkan berat badan Anda dalam waktu tujuh hari.

Kurangi asupan garam

Garam dianggap penyebab timbulnya retensi air di tubuh. Setelah Anda memakan garam, tubuh akan merasa harus (dehidrasi) dan membuat rasa haus yang berlebih, serta dapat membuat perut cepat lapar. Jadi, kurangilah asupan garam.

Banyak-banyak minum air putih

Ini adalah langkah terakhir untuk menghilangkan lemak di perut. Ya, meminum banyak air. Air membuat Anda menjadi kenyang sekaligus mengeluarkan racun dari tubuh dan memperlancar gerakan usus. (tty)

sumber :

Makanan Pedas Picu Maag Kambuh

SALAH satu pantangan bagi penderita gastritis atau penyakit maag adalah menghindari makanan pedas. Lantas, benarkah makanan tersebut membuat penderita maag wajib menghindarinya jika tak ingin mengalami penyakit yang sama?

Gastritis adalah suatu kondisi kesehatan yang ditandai oleh peradangan pada lapisan lambung. Gastritis adalah istilah klinis yang digunakan untuk menggambarkan peradangan fisiologis lapisan perut, yang merupakan kondisi lebih serius daripada iritasi lambung sementara.

Makanan pedas bisa membuat Anda merasa seperti terbakar pada lapisan perut Anda. Ada sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan makanan pedas benar-benar menyebabkan kerusakan pada lapisan perut. Dalam sebuah studi, kasus ringan berupa iritasi pernah dilaporkan ketika orang tersebut mengonsumsi makanan pedas, demikian yang dilansir Livestrong.

New York University Medical Center Langone memeringatkan larangan mengonsumsinya karena makanan pedas dapat menyebabkan iritasi lambung ringan. Sementara bagi Anda yang sudah memiliki gastritis, maka keadaannya bisa membuat gejala lebih buruk.

Selain makanan pedas, makanan tertentu dan kebiasaan hidup telah dikaitkan dengan gastritis, termasuk merokok dan mengonsumsi alkohol berlebih. Dari laporan University of Maryland Medical Center, asupan berat minuman asam, seperti kopi dapat meningkatkan keasaman lambung dan menyebabkan radang selaput perut, serta seperti obat penghilang rasa sakit, termasuk ibuprofen atau naproxen, merupakan salah satu penyebab utama dari gastritis. (ind)
(tty)

sumber : 

Kenali Dampak Buruk Televisi pada Bayi

NIAT hati untuk memberikan hiburan, kenyataanya televisi justru menyisakan efek buruk bagi bayi. Sering menangis hingga agresif jadi imbas yang ditimbulkan.

Kebanyakan dari ibu menenangkan bayinya dengan menyuguhkan tayangan televisi. Tetapi tahukah Anda, hal tersebut justru berdampak buruk pada sang bayi. Menurut penelitian dari University of North Carolina di Chapel Hill, dan North Carolina, televisi dapat mengakibatkan kerewelan pada bayi.

Penelitian dilakukan pada 217 ibu bayi dari Negara Afrika dan Amerika yang berpartisipasi dalam Yayasan Perawatan Bayi dan Risiko Obesitas. Hasilnya, bayi yang menonton setidaknya 2,6 jam perhari selama tiga bulan cenderung mengalami obesitas dan tidak lulus dalam pendidikan sekolah. Selain itu, bayi lebih rewel dan sering menangis. Dampak dari tayangan televisi membuat bayi lebih aktif dan agresif, sebagaimana dilansir EmaxHealth.

Para peneliti menyimpulkan bahwa memahami karakteristik dari tayangan televisi memengaruhi perilaku dari sang bayi. Bayi cenderung tempramental jika melihat tayangan kekerasan. Tak hanya itu, frekuensi menonton yang berlebihan dapat membuat bayi jadi lebih rewel.

Melihat dampak buruk dari televisi, maka menenangkan bayi dengan membiarkannya menonton tayangan televisi bukanlah cara yang tepat. Pasalnya, bukan ketenganan bayi yang didapat melainkan kerewelan bayi yang jadi pekerjaan rumah Anda selanjutnya. (ind) (tty)

sumber : 

Pencegahan Terbaru Kanker Serviks

PENAPISAN untuk kanker serviks yang sedianya dilakukan setahun sekali, mengacu pada aturan baru, cukup dilakukan 3-5 tahun sekali. Selain skrining, baik wanita maupun pria dianjurkan menjalani vaksin HPV.

Paduan skrining berkaitan dengan penyakit kanker sering mengalami perubahan. Bahkan, terkadang beberapa pakar tidak sepakat mengenai frekuensi aturan penapisan. Para ahli lebih mencapai kata sepakat, di antaranya pada isu kriteria wanita yang harus melakukan skrining dan pada usia berapa penapisan ini dilakukan, terutama terhadap kanker serviks. Penyebab utama kanker serviks adalah virus HPV atau (human papillomavirus).

Berdasarkan Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, HPV sangat banyak menyerang wanita.

“Namun, hanya pada sebagian orang dengan HPV dapat mengakibatkan kanker,” sebut Dr Mark Einstein, seorang ahli obgyn dari Montefiore Medical Center, New York.

“Inilah yang membuat jenis kanker itu sangat sulit diskrining. Terlebih butuh waktu yang cukup lama agar akhirnya virus itu berkembang menjadi kanker. Sekitar 5- 7 tahun dari semenjak orang terinfeksi HPV hingga jadi prakanker dan akhirnya menjadi kanker serviks,” kata Mark.

Selama tahap ini, sangat mungkin sistem imun menanggulangi virus tersebut, termasuk sel-sel yang menjadi abnormal tanpa intervensi medis. Bahkan,walaupun sel prakanker masih tetap bertahan, umumnya butuh waktu 5 tahun atau lebih hingga akhirnya berkembang menjadi kanker.

Dr Radhika Rible, seorang ahli obgyn dari University of California, Los Angeles, menyetujui bahwa HPV sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. “HPV sangat lazim menghinggapi wanita, namun kebanyakan (tubuh) wanita yang masih muda dan sehat akan menghilangkan virus dengan sendirinya tanpa konsekuensi,” sebutnya.

“Sangat jarang (virus) berkembang menjadi kanker. Jadi, tak perlu terlalu dipikirkan. Akan tetapi, sangat penting untuk tetap berpegang pada panduan. Sebab jika terdeteksi dini, kita dapat menghentikannya,” lanjut Radhika.

Dua macam tes diujikan pada penapisan kanker serviks. Untuk pap smear, dokter akan mengambil sel dari rahim selama pemeriksaan vagina dan mengirimnya ke laboratorium untuk diteliti, apakah terdapat sel-sel yang bersifat abnormal.

Tes lain yang tak kalah populer dengan pap smearadalah skrining HPV. Tes ini untuk menguji apakah ada bukti infeksi HPV. Panduan skrining kanker serviks, seperti dikutip dari Healthday, telah diperbarui dewasa ini. Mark, yang tergabung dalam kelompok panel yang membahas aturan skrining, mengatakan, lebih dari 25 grup profesional yang dipimpin oleh The American Society for Colposcopy and Cervical Pathology, sepakat mengenai aturan skrining. Sebelumnya wanita disarankan untuk melakukan skrining setiap tahun. Namun, mengacu pada aturan baru ini, wanita diimbau untuk melakukan skrining cukup 3-5 tahun sekali.

Pengobatan infeksi HPV untuk perempuan muda dapat menyebabkan masalah kemandulan pada kemudian hari. Terlepas dari dorongan untuk memvaksinasi anak perempuan dan laki-laki terhadap HPV, para ahli sepakat bahwa sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dengan sendirinya. Infeksi itu juga tidak dapat berkembang menjadi kanker serviks selama kurun waktu satu dekade. Jadi, mereka masih punya banyak waktu untuk skrining dan pengobatan pada kemudian hari.

“Secara tidak sengaja tes skrining dapat menimbulkan bahaya,” tulis para ahli dari the United States Preventive Services Task Force.

Hasil tes yang positif salah dapat menyebabkan overdiagnosis, misdiagnosis, dan potensial untuk memunculkan tes diagnostik yang tidak perlu, prosedur, perawatan, dan risiko untuk pasien. Panduan yang ada sekarang merekomendasikan wanita yang berusia di bawah 21 tahun untuk tidak melakukan skrining. Skrining dengan pap smear idealnya dilakukan setiap 3 tahun sekali untuk wanita usia 21-29 tahun. Sementara itu, wanita usia 30-65 tahun dianjurkan melakukan pap smear 3 tahun sekali dan tes HPV setiap 5 tahun sekali. Skrining bagi wanita usia 65 tahun ke atas hanya dilakukan jika mereka memiliki risiko kanker yang tinggi atau mereka tidak menjalani skrining reguler sebelum memasuki usia 65 tahun.

Panduan ini hanya berlaku bagi wanita yang sehat. Selain skrining untuk pencegahan, vaksin HPV pun dianjurkan untuk dilakukan. Karena aktivitas seksual merupakan jalan utama bagi HPV untuk bertransmisi. Vaksin ini direkomendasikan untuk wanita dan pria pada usia 11-12 tahun, sebelum mereka aktif secara seksual. Vaksin ini juga direkomendasikan bagi yang berumur 13-26 tahun meski mereka sudah aktif melakukan seks dan sekalipun mereka sudah terinfeksi HPV.

“Kendati seseorang sudah terinfeksi HPV, mereka mungkin belum terpapar virus itu sepenuhnya dan masih bisa tertangani dengan vaksin,” kata Mark.

Meski begitu,vaksin tidak lantas menggantikan skrining. Penapisan tetap perlu dilakukan sesuai pedoman. Sebab, tidak seluruh virus HPV dapat tertangani oleh vaksin. (tty)

sumber : 

Jalan Kaki Cegah Wanita Terkena Stroke


detail berita
Rajinlah jalan kaki (Foto: Google)


MENCEGAH stroke sebenarnya tidaklah sulit. Hanya dengan rutin berjalan kaki setidaknya tiga jam setiap minggunya, risiko stroke pada wanita bisa ditekan.

Manfaat berjalan kaki secara rutin kembali ditemukan. Sebuah penelitian terbaru di Spanyol menunjukkan, wanita yang selalu berjalan kaki setidaknya tiga jam setiap minggunya akan kecil kemungkinan untuk menderita stroke dibanding wanita yang kurang atau tidak suka berjalan kaki.

”Pesan untuk masyarakat tetap sama,yaitu rutin teratur terlibat dalam kegiatan yang bersifat rekreasi secara moderat adalah baik untuk kesehatan Anda,” kata penulis utama studi Jose MarĂ­a Huerta dari Murcia Regional Health Authority di Spanyol kepada Reuters Health.

Studi terdahulu juga telah dikaitkan dengan pentingnya aktivitas fisik untuk mencegah stroke. Stroke disebabkan oleh penumpukan plak yang menyumbat arteri otak atau pecahnya pembuluh darah di otak. Hasil penelitian menyebutkan, wanita yang berjalan kaki cepat selama 210 menit atau lebih dalam seminggu memiliki risiko terserang stroke lebih rendah dibandingkan wanita yang tidak aktif.

Partisipan berjumlah kurang lebih 33.000 pria dan wanita. Mereka menjawab kuesioner soal aktivitas fisik yang mereka lakukan pada pertengahan 1990-an sebagai bagian dari proyek yang lebih besar tentang penyakit kanker di Eropa. Untuk studi ini, Huerta dan tim membagi peserta berdasarkan gender, jenis latihan, dan total waktu yang dihabiskan berolahraga setiap minggunya. Hasil penelitian ini diterbitkan di jurnal Stroke.

Para responden diperiksa secara berkala untuk merekam sejauh mana terjadi stroke pada partisipan. Dalam kurun waktu 12 tahun, total 442 kejadian stroke terjadi pada pria dan wanita tersebut.

Menurut Huerta, hasil untuk wanita yang sering berjalan kaki diterjemahkan dengan adanya penurunan 43% dalam risiko stroke dibandingkan dengan kelompok yang tidak aktif. Namun, tidak ada pengurangan risiko yang terlihat untuk hasil pada pria berdasarkan jenis olahraga atau frekuensi.

”Kami tidak memiliki penjelasan yang terang untuk ini,” ujarnya melalui surat elektronik.

Dia berhipotesis bahwa pria kemungkinan mengikuti proses studi dalam kondisi fisik yang lebih baik daripada wanita, tetapi tidak ada bukti untuk mendukung dugaan tersebut.

”Tidak ada cara objektif untuk mengukur berapa banyak latihan yang benar-benar mereka lakukan,” kata Dr Wilson Cueva dari University of Chicago di Illinois, Amerika Serikat.Sebelumnya, penelitian yang dilakukan di Harvard School of Public Health, Amerika Serikat, juga membuktikan bahwa wanita dapat mengurangi risiko serangan stroke dengan berjalan kaki.

Wanita yang suka berjalan cepat memiliki risiko terkena stroke 37% lebih rendah daripada mereka yang jarang berjalan. Wanita yang berjalan setidaknya dua jam seminggu mereduksi risiko terkena stroke sebesar 30%.
(tty)

sumber :

The Virgin Suka yang Blakblakan


detail berita
The Virgin (Foto: Utami/Okezone)
BEKERJA sama dalam satu profesi dibutuhkan kekompakan dan pemahaman diri satu sama lain. Itulah yang dilakukan The Virgin selama empat tahun menjalani karier di  industri musik.

Melakoni profesi bersama hampir sepanjang hari mungkin akan membuahkan kebosanan. Tak jarang, perselisihan pun menerpa. Beruntung, Dara dan Mita, duo The Virgin tak merasakan hal tersebut. Meski sesekali perbedaan perbedaan pendapat dan visi kerap dialami mereka, namun keduanya memiliki cara sendiri dalam mengatasi permasalahan tersebut.

"Kekompakan dalam bekerja selama ini bisa dibangun oleh kita. Karena setiap ada masalah dari awal kita selalu membicarakannya secara langsung," ujar Dara saat berbincang dengan Okezone usai mengisi acara Dahsyat di Studio 6 RCTI, Jakarta, Senin (7/13/2013).

Diakuinya, membicarakan permasalahan yang terjadi menjadi kunci utama bagi mereka sukses dalam karier yang dibangun hingga sekarang. Karenanya, komunikasi penting dijalin setiap harinya guna untuk lebih memahami karakter masing-masing dan mengetahui perasaan yang dialami saat itu.Keduanya pun mengaku suka berbicara blak-blakan.

"Langsung ngomong, gak ngedumel di belakang, makanya dari awal kalau ada masalah pasti selalu diomongin," tutupnya. (ind)
(tty)

sumber :  

Mitha "The Virgin" Mulai Pakai Bedak & Lipgloss

SISI feminin Mitha perlahan mulai timbul. Hal itu terlihat dari kebiasaannya yang mulai memakai peralatan make up seperti bedak dan lipgloss.

Gaya tomboi Mitha memang menjadi ciri khasnya sejak muncul pertama kali di kancah musik. Penampilannya kerap terlihat maskulin dengan t-shirt oblong yang menjadi kesukaannya. Sementara urusan make up yang biasanya menjadi item wajib para wanita justru tak pernah digunakannya.

Namun belakangan ini, kebiasaan tersebut mulai sedikit berubah. Perangkat make up yang sebelumnya jarang bersentuhan dengan kesehariannya kini perlahan mulai digunakan.

"Baju cewek sih enggak dipakai, tapi kalau bedak sudah mulai pakai. Terus kalau lipgloss juga sudah," aku Mitha ketika ditemui di Studio Hanggar, Pancoran, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Gitaris The Virgin itu memang sengaja ingin mengubah penampilannya secara perlahan (tahap demi tahap). Namun sampai saat ini, diakui Mitha, dirinya masih nyaman dengan gaya tomboinya tersebut.

"Enggaklah, Mitha mau berubah sedikit-sedikit. Tapi sampai saat ini belum ada perubahan," tutupnya. (ind)
(tty)

sumber :